Kamis, 09 November 2017

Kayu-kayu Perahu Bekas Disulap Menjadi Furniture Menarik

Tangan-tangan kreatif di Jember tidak henti-hentinya melahirkan karya-karya yang begitu menarik. Karya yang walaupun sebenarnya berorientasi pada segi bisnis, namun tetap memiliki nilai estetika yang begitu tinggi. Kali ini mebel jepara berkesempatan untuk mengulas lebih dalam tentang mebel jepara Sebuah unit usaha milik cv aulianajah , yang memproduksi perangkat furniture. Bedanya, furniture buatan Mebel jepara ini terbuat dari kayu-kayu perahu yang sudah tidak lagi berlayar.
Usaha yang dirintis Arief –sapaan sang pemilik– ini dimulai sekitar tahun 1994. Namun awalnya hanya mengerjakan produk dan pesanan konvensional atau produk furniture lokal dan dipasarkan di wilayah sekitar pula. Karena terbatasnya ketersediaan bahan baku yaitu kayu Jati tua sebagai bahan favorit, dan kendala persaingan furniture lokal, demi kelasngsungan usaha akhirnya mebel jepara berusaha merubah segmentasi produk. Dengan harapan mendapatkan pasar yang lebih luas sekaligus terjadi peningkatan omset.

Pada pertengahan tahun 2003 mulai dipilihlah bongkaran bekas kayu-kayu perahu untuk didaur ulang menjadi produk berdasarkan order pelanggan. Tak disangka, ide itupun mendatangkan customer yang kebanyakan datang dari luar daerah, terutama Bali. Namun dibalik hal itu, ternyata pemilihan kayu bekas perahu pun juga tidak semudah yang dibayangkan. Karena Arief masih terkendala negoisasi harga dengan para pemilik perahu. Sebab sebuah perahu bekas harganya sangat dinamis alias tidak memiliki patokan harga. Apalagi jenis kayu dari perahu bekas tersebut memiliki tingkat spesifikasi yang tergolong bagus.
“Perahu yang kebanyakan kami borong berasal dari pantai sekitar tepatnya di daerah Puger. Karena pantai Puger termasuk pantai Selatan dengan gelombang yang lebih besar dibanding dengan pantai-pantai di sebelah Utara. Maka spesifikasi perahu pun pasti menggunakan kayu yang sangat super, seperti kayu Jati dan Ulin.” tutur Arief.

Hal lain yang menarik dari mebel jepara ini adalah sang pemilik yang memiliki visi bahwa mereka tidak pernah memotong pohon hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan. Sebab mereka juga ingin menjunjung semangat eco-friendly yang sudah menjadi issue penting di negeri ini. Selain itu Arief juga selalu siap menerima perahu-perahu yang sudah purna layar untuk kemudian ia beli dan dijadikan sebagai barang (furniture) yang memiliki nilai jual tinggi.
“Seandainya saja jika kami bisa bertemu Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti,  kami ingin menyampaikan bahwa janganlah itu kapal-kapal asing diledakkan dan ditenggelamkan. Kirim saja sini ke Petung, sudah pasti cukup berguna, kami siap olah, Bu.” candanya.

Selain kayu bekas perahu, mebel jepara juga mengolah dan mendaur-ulang berbagai kayu dari bekas bangunan, bak truk, dan gedung-gedung tua. Kayu yang diperoleh dari pembongkaran sebuah gedung biasanya hanya mereka pakai untuk kebutuhan frame produk-produknya. Sedangkan kayu perahu mereka pertahankan warna aslinya karena itu sudah menjadi identitias dari produk mebel jepara sendiri. Dengan corak keaslian warna kayu perahu tersebut, mereka menyusun dan memasangkan kecocokan warna untuk suatu produk yang dipesan oleh pelanggan. Hasilnya pun memang sangat menarik.

Para pekerja mebel jepara juga berasal dari warga sekitar jepara , jawa tengah. Karena mebel jepara sudah termasuk dalam industri, aktifitas mereka pun pasti juga menghasilkan limbah. Limbah yang dihasilkan ternyata masih sangat ramah lingkungan. Limbah berupa serutan kayu tiap hari diolah kembali sebagai kebutuhan bahan bakar untuk memasak oleh warga sekitar dan bahan bakar usaha lain seperti produsen Bata, Tahu dan Tempe. Arief mengajak mereka untuk melakukan semangat daur ulang dan kreatifitas. Hal itupun juga berlaku bagi masyarakat luas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar